“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha
Luas (karuniaNya), lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqoroh : 261)
(+) Bro, Kalo kita punya uang 5.000,
diambil 1.000 untuk sedekah di jalan Allah. Jadi ada berapa uangnya?
(-) 4.000 dong!
(+) Salah! Yang bener
704.000 dong..
(-) Lho kok bisa?
(+) Firman Allah dalam surat Al
Baqoroh ayat 261 menyebutkan sedekah di jalan Allah dilipatgandakan menjadi 700
kali lipatnya. Jadi sedekah kita tadi yang 1.000 akan dilipatgandakan Allah menjadi
700.000, gitu.. Maka uang kita sebenarnya adalah 700.000 + 4.000 = 704.000
Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang
yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan
bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang
menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaanorang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami
mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang
berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis
Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek
keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul
dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi
orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil
hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.
Diantara keutamaan bersedekah antara lain:
1.Sedekah
dapat menghapus dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR.
Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614). Diampuninya
dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa
yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja
bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil
harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk
bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak
dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan
dosa besar. Allah Ta’ala berfirman: “Maka
apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab
Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)
2.Orang
yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu,
hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari
akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah: “Seorang yang bersedekah dengan tangan
kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)
3.Sedekah
memberi keberkahan pada harta.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Harta tidak akan berkurang
dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan
kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588
Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih
Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para
ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu
hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi
‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan
kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka
pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini
dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”
4.Allah
melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah
baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang
baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi
mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18)
5.Terdapat
pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.
“Orang memberikan menyumbangkan dua
harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga:
“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari
golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu
shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu
jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari
pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
6.Sedekah
akan menjadi bukti keimanan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223) An Nawawi menjelaskan:
“Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh
karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu
Imanihi (kebenaran imannya)”
7.Sedekah
dapat membebaskan dari siksa kubur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Sedekah akan memadamkan
api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih
At Targhib, 873)
8.Sedekah
dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam
jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no.
1208, ia berkata: “Hasan shahih”)
9.Orang
yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang
yang dermawan dengan orang yang pelit: “Perumpamaan
orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki
baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang
bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di
kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak
meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan
pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia
berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443) Dan hal
ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada dada yang lapang dan kebahagiaan terasa setelah kita
memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan. Dan masih banyak lagi dalil-dalil
yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah.
Tidakkah hati kita terpanggil?
oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo, dari laman dakwatuna.com
Mencari keuntungan dalam bisnis pada
prinsipnya merupakan suatu perkara yang jaiz (boleh) dan
dibenarkan syara’, bahkan secara khusus diperintahkan Allah kepada orang-orang
yang mendapatkan amanah harta milik orang-orang yang tidak bisa bisnis dengan
baik, misalnya anak-anak yatim (lihat QS. An-Nisa’:29, Al-Baqarah:
194, 275, 282, An-Nur:37, Al-Jum’ah:10, Al-Muzzammil:20, Quraisy:1-3)
Dan, tak ada satu nash pun yang
membatasi margin keuntungan, misalnya 25 %, 50%, 100% atau lebih dari modal.
Bila kita jumpai pembatasan jumlah keuntungan yang dibolehkan maka pada umumnya
tidak memiliki landasan hukum yang kuat.
Tingkat laba/keuntungan atau
profit margin berapa pun besarnya selama tidak mengandung unsur-unsur keharaman
dan kezhaliman dalam praktek pencapaiannya, maka hal itu dibenarkan syariah
sekalipun mencapai margin 100 % dari modal bahkan beberapa kali lipat. Hal itu
berdasarkan dalil berikut:
Ada beberapa hadits Rasulullah
saw menunjukkan bolehnya mengambil laba hingga 100% dari modal. Misalnya hadits
yang terdapat pada riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya (IV/376),
Bukhari (Fathul Bari VI/632), Abu Dawud (no. 3384), Tirmidzi (no.1258), dan
Ibnu Majah (no.2402) dari penuturan Urwah Ibnul Ja’d al-Bariqi ra.
Sahabat Urwah diberi uang satu
dinar oleh Rasulullah saw untuk membeli seekor kambing. Kemudian ia
membeli dua ekor kambing dengan harga satu dinar. Ketika ia menuntun kedua ekor
kambing itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampirinya dan menawar kambing
tersebut. Maka ia menjual seekor dengan harga satu dinar. Kemudian ia menghadap
Rasulullah dengan membawa satu dinar uang dan satu ekor kambing. Beliau lalu
meminta penjelasan dan ia ceritakan kejadiannya maka beliau pun berdoa: “Ya
Allah berkatilah Urwah dalam bisnisnya.”
Dan meraih keuntungan lebih dari
yang diambil Urwah pun diperkenankan asalkan bebas dari praktik penipuan,
penimbunan, kecurangan, kezhaliman, contoh kasusnya pernah dilakukan oleh Zubeir
bin ‘Awwam salah seorang dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Ia
pernah membeli sebidang tanah di daerah ‘Awali Madinah dengan harga 170.000
kemudian dijualnya dengan harga 1.600.000. ini artinya sembilan kali lipat dari
harga belinya (Shahih al-Bukhari, nomor hadits 3129).
Namun begitu, Imam Al-Ghozali
dalam Ihya’ Ulumuddin-nya (II/72) menganjurkan perilaku ihsan
dalam berbisnis sebagai sumber keberkahan yakni mengambil keuntungan rasional
yang lazim berlaku pada bisnis tersebut di tempat itu. Beliau juga menegaskan
bahwa siapa pun yang qana’ah (puas) dengan kadar keuntungan yang
sedikit maka niscaya akan meningkat volume penjualannya. Selain itu dengan
meningkatnya volume penjualan dengan frekuensi yang berulang-ulang (sering)
maka justru akan mendapatkan margin keuntungan banyak, dan akan menimbulkan
berkah.
Pantas kalau Ali ra. pernah
berkeliling menginspeksi pasar Kufah dengan membawa tongkat pemukul seraya
berkata, “Wahai segenap pedagang, ambillah yang benar, niscaya kamu selamat.
Jangan kamu tolak keuntungan yang sedikit, karena dengan menolaknya kamu akan
terhalang untuk mendapatkan yang banyak.”
Abdurrahman bin Auf pernah ditanya orang, “Apakah yang menyebabkan engkau
kaya?” Dia menjawab, “Karena tiga perkara: 1) Aku tidak pernah menolak keuntungan
sama sekali. 2) Tiada orang yang memesan binatang kepadaku, lalu aku lambatkan
menjualnya, 3) Dan aku tidak pernah menjual dengan sistem kredit berbunga.” Contoh
kasusnya, Abdurrahman bin Auf pernah menjual 1000 ekor unta, tetapi ia tidak
mengambil keuntungan melainkan hanya dari tali kendalinya. Lalu dijualnya
setiap helai tali itu dengan harga 1 dirham, dengan demikian ia mendapatkan
keuntungan 1000 dirham. Dan dari penjualan itu ia mendapatkan keuntungan 1000
dirham dalam sehari.
Itulah cermin orang mempraktekkan sabda Rasulullah saw bersabda: “Semoga
Allah merahmati orang yang toleran (gampang) ketika menjual, toleran ketika
membeli, toleran ketika menunaikan kewajiban dan toleran ketika menuntut hak.”
(HR. Bukhari dari Jabir).