Sobat yang dirahmati Allah, beberapa hari yang lalu, sebelum masuk bulan Desember, kami, saya dan istri berbincang-bincang, atau lebih tepatnya diskusi, tentang rencana atau resolusi di bulan Muharam ini.. Semangat hijrah membuat kami harus merencanakan dan mengevaluasi kondisi RT kami, terutama tentang keuangan.. Maklum pos pengeluaran kami itemnya banyak, mungkin kalau dijumlah ada 5 - 6 item.. Sedangkan pos pemasukan kami hanya dua item, yaitu penghasilan saya dan istri.. paling nggak pos pemasukan kami harus ada 3 item..Tapi di tengah perbincangan, saya mengevaluasi mungkin banyak pengeluaran yang harus bisa ditekan, karena saya merasa tidak punya potensi untuk menambah pos pemasukan alias wiraswasta sampingan.. Saya yakin kebocoran pada keuangan kami dikarenakan tidak berkahnya keuangan kami, bahkan tabungan Haji saya sampai satu tahun ini tidak bisa ngisi.. Tidak berkahnya keuangan kami itu karena kami jarang merencanakan pengeluaran sedekah.. Menurut, artikel perencana keuangan yang selalu saya ikuti di satu majalah wanita Islam, pengeluaran sedekah dan tabungan harus di potong di depan ketika menerima gaji, sebanyak masing-masing 10 %.. Kenapa 10% ? saya juga belum tahu jawabannya, mungkin sobat sekalian ada yang tahu jawabannya.. Tapi dalam firman Allah di surat Al Baqoroh, ayat 261, sedekah atau infak kita di jalan Allah akan di balas 700x, seperti sebutir benih yang ditanam, kemudian menumbuhkan 7 bulir, dimana masing-masing bulir berisi 100 biji.. Ini adalah janji Allah.. bukan janji manusia, yang kadang-kadang manis dimuka, pahit dibelakangnya..
Sobat yang dirahmati Allah, balasan Allah itu tidak hanya berupa uang ansich.. mungkin Allah akan mengaruniakan kesehatan (yang mahal harganya itu), anak-anak yang sholih/sholihah dan mungkin bertambahnya relasi.. Saya contohkan, beberapa orang dari penghasilan gede, aset besar, tapi dia tidak pernah menikmatinya karena saking sibuknya, atau karena kesehatan yang menurun, ada juga rumah tangganya seperti neraka dunia, karena pasangannya selingkuh atau anak-anaknya kriminal.. Di akhir pembicaraan kami memutuskan untuk memotong 20% dari penghasilan kami untuk tabungan dan sedekah, walaupun istri setengah keberatan, karena memang menurut penghitungannya mana mungkin hidup satu bulan dengan sisa gaji yang sudah dipotong itu.. Tapi saya ingatkan dia lagi, bahwa Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, saya tambahkan lagi bahwa 10% sedekah itu adalah hak dhuafa, sedangkan 10% tabungan ini hak kita, sedangkan 80% sisanya memang kewajiban kita pada ortu dan anak. Saya yakinkan lagi dengan kisah-kisah nyata tentang keajaiban sedekah itu, bahkan kisah itu dia alami sendiri sebenarnya (mungkin di tulisan lain, insya Allah akan saya ceritakan kisah itu).
Lalu, kenapa sih dipotong di depan? Karena kalau disisakan di belakang, bakalan habis tidak bersisa, bahkan mungkin malah bisa minus keuangan kita, karena tidak ada perencanaan.. Kata pakar, siapa yang gagal merencanakan, maka dia akan merencanakan kegagalan.. Yang penting disiplin saja, kalau sudah ada rencana, kemudian kita disiplin mengikuti rencana itu, kemudian tawakal pada Allah.. Disiplin itu pahit memang, akan tetapi sebenarnya malah menyehatkan kita, kayak jamu gitu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar